SAHIR ALIM
Penulis Novel Ingatan, Relasi, dan Ketahanan Batin
(Media Kit)
Sahir Alim adalah penulis novel Indonesia yang karyanya berangkat dari pengalaman manusia biasa di tengah peristiwa yang mengubah hidup. Ia dikenal melalui pendekatan yang tenang, etis, dan terkendali, menempatkan tragedi—baik personal maupun kolektif—bukan sebagai tontonan, melainkan sebagai pengalaman batin yang menetap dalam kebiasaan, relasi, dan ingatan.
Alih-alih menulis konflik secara spektakuler, Sahir Alim memilih ruang domestik: rumah, keluarga, tubuh, dan keputusan-keputusan kecil yang sering luput dari catatan sejarah. Dalam karyanya, peristiwa besar tidak hadir sebagai pusat narasi, melainkan sebagai kondisi yang menggeser cara hidup tokoh-tokohnya. Diam, jeda, dan penahanan emosi menjadi bagian dari struktur, bukan ketiadaan.
Ciri Estetik Utama
- Bahasa liris yang terkendali, tanpa melodrama
- Fokus pada dampak peristiwa, bukan peristiwanya sendiri
- Etika representasi trauma dan minoritas yang kuat
- Struktur naratif rapi dan konsisten
- Potensi long seller dan relevansi lintas waktu
- Peta Karya & Evolusi
Katalog Sahir Alim menunjukkan kurva evolusi yang jelas—dari realisme sosial menuju sastra ingatan kolektif:
- Wareg Ngepet — realisme sosial dan satir lokal
- Guntur Suroso — konflik moral dan maskulinitas
- Yang Pernah Kita Rencanakan — relasi intim dan tragedi privat
- Yang Bertahan Tidak Selalu Menang — eksistensial dan ketahanan batin
- Ketika Doa Menyebut Nama yang Sama — liris spiritual dan kehilangan
- Mereka yang Dilupakan — tragedi kemanusiaan kontemporer (pandemi)
- Mei yang Tidak Pernah Usai — Cindo di Tanah Jawa — (Magnum Opus) novel ingatan kolektif berlatar Kerusuhan Mei 1998, dengan pendekatan domestik dan disiplin etis tinggi
Di luar karya cetak, Sahir Alim juga menulis sastra populer liris digital melalui novel When the Stars Forgot Our Names (Wattpad), yang berfungsi sebagai perluasan pembaca dan eksplorasi emosi generasi muda, tanpa menggantikan posisi karya sastra utamanya.
Posisi di Ranah Sastra dan Pasar
Market: pembaca dewasa reflektif, komunitas sastra, pembaca relasi, akademisi, serta pembaca digital generasi baru
Sastra: relevan untuk diskursus trauma, ingatan kolektif, etika naratif, dan sastra pasca-peristiwa
Ringkasan Posisi
Sahir Alim adalah penulis yang tumbuh dari realisme sosial menuju sastra ingatan, dengan disiplin etis dan bahasa yang semakin hening—menjadikan karya-karyanya relevan secara sastra, terbaca secara luas, dan bertahan lintas waktu.

Komentar
Posting Komentar